Surat Al Fatihah (pembuka)[1]
Surah ke-1. Terdiri dari 7 ayat. Makkiyyah
1-7: Surah ini mencakup semua makna/kandungan
dalam Al Qur’an dan mengandung maksud-maksud Al Qur’an yang asasi (dasar)
secara garis besar. Oleh karena itulah dinamakan Ummul Kitab yang artinya induk
Al Qur’an
Kandungan surat Al Fatihah
Surat Al Fatihah meskipun singkat, namun
mengandung banyak pengetahuan. Di dalamnya terdapat tiga tauhid yang diperintahkan;
tauhid rububiyyah (dari ayat "rabbil 'aalmiin"), tauhid uluhiyyah
(dari ayat "iyyaaka na'budu") dan tauhid asmaa' wash shifat dengan
menetapkan semua sifat sempurna bagi Allah yang telah ditetapkan oleh-Nya dan
oleh Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam. Hal ini sebagaimana ditunjukkan
oleh ayat "Al Hamdulillah", karena nama-nama dan sifat-sifat Allah
semuanya terpuji dan merupakan pujian bagi Allah Ta'ala.
Demikian juga menetapkan kenabian dan kerasulan
Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang diambil dari ayat "Ihdinash
shiraathal mustaqiim", karena jalan yang lurus tersebut adalah jalan yang
diterangkan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Surat ini juga
menetapkan adanya jazaa' (pembalasan amal) dan bahwa hal itu dilakukan dengan
adil berdasarkan ayat "Maaliki yaumiddiin". Surat ini juga menguatkan
Aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah tentang masalah qadar, yakni bahwa semua terjadi
dengan qadar Allah dan qadhaa'-Nya, dan bahwa seorang hamba melakukan
perbuatannya secara hakikat; tidak dipaksa dalam berbuat. Hal ini dapat
diketahui dari ayat "Iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin". Surat ini
juga menerangkan pokok kebaikan, yaitu ikhlas, sebagaimana diambil dari ayat
" Iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin".
Karena surat ini begitu agung dan mulia, Allah
mewajibkan hamba-hamba-Nya membacanya di setiap rak'at dalam shalat mereka baik
shalat fardhu maupun sunat. Di surat tersebut Allah mengajarkan kepada
hamba-hamba-Nya bagaimana mereka memuji dan menyanjung-Nya, lalu mereka meminta
kepada Tuhan mereka segala yang mereka butuhkan. Di surat ini pun terdapat
bukti butuhnya mereka kepada Tuhan mereka, baik butuhnya hati mereka dipenuhi
rasa cinta dan pengenalan kepada-Nya dan butuhnya mereka agar dibantu dalam
menyelesaikan urusan mereka serta diberi taufiq agar dapat mengabdi kepada-Nya.
Contoh ayat-ayat yang menerangkan lebih lanjut
surat Al Fatihah
Sebagaimana diterangkan bahwa semua isi Al Qur'an
merupakan penjelasan lebih rinci terhadap masalah yang yang disebutkan secara
garis besar dalam surat Al Fatihah. Berikut ini contohnya:
Firman Allah, "Al hamdulillahi."
diterangkan oleh surat Al Baqarah: 186 dan 286.
Firman Allah, "Rabbil 'aalamiin"
diterangkan oleh surat Al Baqarah: 21-22 dan 29.
Firman Allah, "Ar Rahmaanir rahiim"
diterangkan oleh surat Al Baqarah: 37 dan 126
Firman Allah, "Maaliki yaumiddin."
diterangkan oleh surat Al Baqarah: 284.
Firman Allah, "Iyyaaka na'budu."
diterangkan oleh surat Al Baqarah secara lebih rinci, di mana di sana
diterangkan masalah bersuci, shalat lima waktu, shalat jama'ah, shalat khauf,
shalat Ied, zakat, puasa, I'tikaf, sedekah, umrah dan haji, mu'amalah secara
Islam, warisan, wasiat, berbagai masalah pernikahan, penyusuan anak, nafkah,
tentang hukum qishas, diyat, memerangi pemberontak dan orang yang murtad,
tentang bjihad, tentang makanan, sembelihan, sumpah, nadzar, peradilan
(qadhaa'), persaksian, memerdekakan budak dsb. semua ini merupakan bab-bab
syari'at yang diterangkan dalam surat Al Baqarah.
Firman Allah, "Wa iyyaka nasta'iin"
mewakili ilmu tentang akhlak.
Firman Allah, "Ihdinash shiraathal
mustaqiim." diterangkan dalam surat-surat setelahnya yang menyebutkan
jalannya para nabi dan jalan orang-orang yang menyelisihinya. wal hamdulillahi
rabbil 'aalamiin.
بِسْمِ اللَّهِ
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (١) الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (٢)الرَّحْمَنِ
الرَّحِيمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ
نَسْتَعِينُ (٥) اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (٦) صِرَاطَ الَّذِينَ
أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ ٧
Terjemah
Surat Al Fatihah
1.
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang[2].
2.
Segala puji[3] bagi Allah, Tuhan semesta alam[4].
3.
Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.[5]
4.
Yang menguasai[6] hari Pembalasan[7].
5.
Hanya Engkaulah yang Kami sembah[8], dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta
pertolongan[9].
6.
Tunjukkanlah kami[10] jalan yang lurus,
7.
(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau berikan nikmat kepada mereka; bukan
(jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.[11]
[1]
Surat Al Faatihah (Pembukaan) yang diturunkan di Mekah dan terdiri dari 7 ayat
ini adalah surat yang pertama diturunkan secara lengkap di antara surat-surat
yang ada dalam Al Quran, ia termasuk golongan surat Makkiyyah. Surat ini
disebut Al Faatihah (Pembukaan), karena dengan surat inilah dibuka dan
dimulainya Al Quran. Allah subhaanahu wa Ta'ala memulai kitab-Nya dengan surat
ini, karena surat ini menghimpun tujuan dan maksud Al Qur'an. Oleh karena itu,
surat ini dinamakan Ummul Quran (induk Al Quran) atau Ummul Kitaab (induk Al
Kitab) karena dia merupakan induk dari semua isi Al Quran. Oleh karena itu,
diwajibkan membacanya pada setiap shalat. Al Hasan Al Basri berkata,
"Sesungguhnya Allah menyimpan ilmu-ilmu yang ada dalam kitab-kitab
terdahulu di dalam Al Qur'an, kemudian Dia menyimpan ilmu-ilmu yang ada dalam
Al Qur'an di dalam surat Al Mufashshal (surat-surat yang agak pendek), dan Dia
menyimpan ilmu-ilmu yang ada dalam surat Al Mufashshal di dalam surat Al
Fatihah.
Oleh karena itu, barang siapa yang mengetahui tafsirnya, maka ia
seperti mengetahui tafsir semua kitab-kitab yang diturunkan." (Diriwayatkan
oleh Baihaqi dalam Syu'abul Iman). Mencakupnya isi surat Al Fatihah terhadap
semua ilmu yang ada di dalam Al Qur'an ditunjukkan oleh Az Zamakhsyari, yaitu
karena di dalam Al Fatihah terdapat pujian bagi Allah yang sesuai, terdapat
peribadatan kepada-Nya, terdapat perintah dan larangan serta terdapat janji dan
ancaman, sedangkan ayat-ayat Al Qur'an tidak lepas dari semua ini. Dengan
demikian, semua isi Al Qur'an merupakan penjelasan lebih rinci terhadap masalah
yang yang disebutkan secara garis besar dalam surat Al Fatihah.
Surat
ini dinamakan pula As Sab'ul matsaany (tujuh yang berulang-ulang) karena
ayatnya ada tujuh dan dibaca berulang-ulang dalam shalat. Tentang keutamaan
surat ini, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
أَلاَ أُخْبِرُكَ بِأَخْيَرَ سُوْرَةٍ
فِي اْلقُرْآنِ { الحمد لله رب العالمين }
"Maukah
aku beritahukan kepadamu surat yang terbaik dalam Al Qur'an? Yaitu Al
Hamdulillahi rabbil 'aalamin." (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Al Albani
dalam Shahihul Jami' no. 2592)
[2]
Maksudnya adalah "Saya memulai membaca surat Al-Fatihah ini dengan
menyebut nama Allah sambil memohon pertolongan kepada-Nya agar dapat membaca
firman-Nya, memahami maknanya dan dapat mengambilnya sebagai petunjuk."
Setiap pekerjaan yang baik, hendaknya dimulai dengan menyebut asma Allah,
seperti makan, minum, menyembelih hewan, menaiki kendaraan, membaca Al Qur'an
di awal surat, masuk dan keluar masjid, mengunci pintu, masuk dan keluar rumah,
menulis surat, hendak berwudhu' dan sebagainya. Allah ialah nama Zat Yang
Mahasuci, yang satu-satunya berhak disembah dengan sebenarnya disertai rasa
cinta, takut dan berharap kepada-Nya, Zat yang tidak membutuhkan makhluk-Nya,
tetapi makhluk yang membutuhkan-Nya. Ar Rahmaan (Maha Pemurah): salah satu nama
Allah yang memberi pengertian bahwa Allah memiliki rahmat (kasih-sayang) yang
luas mengena kepada semua makhluk-Nya, sedangkan Ar Rahiim artinya Allah Maha
Penyayang kepada orang-orang mukmin. Kepada orang-orang mukmin itu
diberikan-Nya rahmat yang mutlak, selain mereka hanya memperperoleh sebagian
daripadanya. Ar Rahmaan dan Ar Rahiim merupakan nama Allah yang menetapkan
adanya sifat rahmah (sayang) bagi Allah Ta'ala sesuai dengan kebesaran-Nya.
[3]
Alhamdu artinya segala puji. Memuji dilakukan karena perbuatannya yang baik.
Maka memuji Allah berati menyanjung-Nya karena perbuatan-Nya yang baik seperti
melimpahkan karunia dan berbuat adil, karena sifat-sifat-Nya yang sempurna dan
karena nikmat-nikmat-Nya yang begitu banyak yang dilimpahkan-Nya kepada kita
baik nikmat yang berkaitan dengan agama maupun dunia. Syaikh
Ibnu 'Utsaimin berkata, "Al Hamdu adalah menyifati yang dipuji dengan
kesempurnaan disertai rasa cinta dan pengagungan; baik kesempurnaan dzaat,
sifat maupun perbuatan-Nya." Dengan demikian dalam memuji Allah Ta'ala
harus disertai rasa cinta dan pengagungan serta ketundukan, karena jika tidak
seperti ini bukan merupakan pujian yang sempurna. Kita
menghadapkan segala puji bagi Allah ialah karena dari Allah sumber segala
kebaikan yang kita peroleh. Di dalam ayat ini mengandung perintah kepada semua
hamba agar memuji Allah Ta'ala. Ayat ini juga menunjukkan bahwa Allah Ta'ala
berhak mendapatkan pujian sempurna dari segala sisi, oleh karena itu Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam ketika mendapatkan hal yang menyenangkan
mengucapkan "Al Hamdulillahilladziy bini'matihi tatimmush shaalihaat"
(segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya amal shalih menjadi sempurna),
dan ketika Beliau memperoleh selain itu, Beliau tetap mengucapkan "Al
Hamdulillah 'alaa kulli haal" (segala puji bagi Allah dalam semua keadaan)
sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Majah (3803).
[4]
Rabb (tuhan) berarti Tuhan yang ditaati yang Memiliki, Mendidik, Mengurus dan
Memelihara. Lafal Rabb tidak dapat dipakai selain untuk Allah, kecuali kalau ada
sambungannya, seperti rabbul bait (tuan rumah). 'Alamiin (semesta alam) adalah
semua yang diciptakan Allah yang terdiri dari berbagai jenis dan macam,
seperti: alam manusia, alam hewan, alam tumbuh-tumbuhan, benda-benda mati dan
sebagainya. Allah Pencipta semua alam-alam itu, Dia-lah yang menciptakan semua
makhluk, yang mengurus urusan mereka, mengurus semua makhluk-Nya dengan
nikmat-nikmat-Nya dan mengurus para wali-Nya dengan iman dan amal yang shalih.
Dengan demikian, pemeliharaan Allah Ta'ala kepada alam semesta itu ada yang
umum dan ada yang khusus. Yang umum adalah diciptakan-Nya mereka, diberi-Nya
rezeki, diberi-Nya mereka petunjuk kepada hal-hal yang bermaslahat bagi mereka
agar mereka dapat hidup di muka bumi, sedangkan yang khusus adalah dengan dididik-Nya
para wali-Nya dengan iman dan amal shalih atau diberi-Nya taufiq kepada setiap
kebaikan dan dihindarkan dari semua keburukan. Mungkin inilah rahasia mengapa
do'a yang diucapkan para nabi kebanyakan menggunakan lafaz Rabb (seperti Rabbi
atau Rabbanaa). Ayat ini menunjukkan bahwa hanya Allah-lah Rabbul 'aalamin;
yang menciptakan, mengatur, memberi rezeki, menguasai dan memiliki alam
semesta; tidak ada Rabb selain-Nya.
[5]
Tentang makna Ar Rahmaan dan Ar Rahiim sudah diterangkan sebelumnya. Disebutkannya
ayat ini setelah "Al Hamdu lillahi Rabbil 'aalamiin" untuk
memberitahukan bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengurus alam semesta ini
tidak dengan menyiksa dan memaksa, bahkan atas dasar kasih-sayang-Nya.
[6]
Maalik (yang menguasai) dengan memanjangkan mim, berarti: pemilik. dapat pula
dibaca dengan Malik (dengan memendekkan mim), artinya: Raja. Dihubungkannya
kepemilikan hari pembalasan kepada-Nya meskipun milik-Nya dunia dan akhirat,
karena pada hari itu kelihatan dengan jelas kekuasaan dan kepemilikan-Nya. Pada
hari itu antara raja-raja di dunia dengan rakyat sama tidak ada perbedaan,
mereka tunduk kepada keagungan-Nya, menunggu pembalasan-Nya, mengharapkan
pahala-Nya dan takut terhadap siksa-Nya.
[7]
Yaumiddin (hari Pembalasan): hari yang di waktu itu masing-masing manusia
menerima pembalasan amalannya baik atau buruk. Yaumiddin disebut juga yaumul
qiyaamah, yaumul hisaab, yaumul jazaa' dan sebagainya. Dibacanya ayat ini oleh
seorang muslim dalam setiap shalat untuk mengingatkannya kepada hari akhir;
hari di mana amalan diberikan balasan. Demikian juga mendorong seorang muslim
untuk beramal shalih dan menghindari kemaksiatan.
[8]
Na'budu diambil dari kata 'ibaadah yang artinya kepatuhan dan ketundukkan yang
ditimbulkan oleh perasaan terhadap kebesaran Allah, sebagai Tuhan yang
disembah, karena keyakinan bahwa Allah mempunyai kekuasaan yang mutlak
terhadapnya disertai rasa cinta dan berharap kepada-Nya. Ditambahkan rasa
cinta, karena landasan yang harus ada pada seseorang ketika beribadah itu ada tiga:
rasa cinta kepada Allah Ta’ala, rasa takut dan tunduk kepada Allah Ta’ala dan
rasa berharap. Oleh karena itu, kecintaan saja yang tidak disertai dengan rasa
takut dan kepatuhan, seperti cinta terhadap makanan dan harta, tidaklah
termasuk ibadah. Demikian pula rasa takut saja tanpa disertai dengan cinta,
seperti takut kepada binatang buas, maka itu tidak termasuk ibadah. Tetapi jika
suatu perbuatan di dalamnya menyatu rasa takut dan cinta maka itulah ibadah.
Dan tidaklah ibadah itu ditujukan kecuali kepada Allah Ta'ala semata. Dalam
ayat ini terdapat dalil tidak bolehnya mengarahkan satu pun ibadah (seperti
berdo'a, ruku', sujud, thawaf, istighatsah/meminta pertolongan), berkurban dan
bertawakkal) kepada selain Allah Ta'ala.
[9]
Nasta'iin (minta pertolongan), terambil dari kata isti'aanah: mengharapkan
bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup dikerjakan
dengan tenaga sendiri. Dalam ayat ini terdapat obat terhadap penyakit
ketergantungan kepada selain Allah Ta'ala, demikian juga obat terhadap penyakit
riya', 'ujub (bangga diri) dan sombong. Disebutkannya isti'anah kepada Allah
Ta'ala setelah ibadah memberikan pengertian bahwa seseorang tidak dapat
menjalankan ibadah secara sempurna kecuali dengan pertolongan Allah Ta'ala dan menyerahkan
diri kepada-Nya. Ayat ini menunjukkan lemahnya manusia mengurus dirinya sendiri
sehingga diperintahkannya untuk meminta pertolongan kepada-Nya Berdasarkan ayat
ini juga bahwa beribadah dan meminta pertolongan kepada-Nya merupakan sarana
memperoleh kebahagiaan yang kekal dan terhindar dari keburukan. Perbuatan
dikatakan ibadah jika diambil dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan
diniatkan ikhlas karena Allah Ta'ala.
Perlu
diketahui bahwa isti'anah (meminta pertolongan) terbagi dua:
- Isti’anah
tafwidh, meminta pertolongan dengan menampakkan kehinaan, pasrah dan sikap
harap, ini hanya boleh kepada Allah saja, syirk hukumnya bila mengarahkan
kepada selain Allah.
-
Isti’anah musyarakah, meminta pertolongan dalam arti meminta keikut-sertaan
orang lain untuk turut membantu, maka tidak mengapa kepada makhluk, namun
dengan syarat dalam hal yang mereka mampu membantunya.
[10]
Ihdina (tunjukkanlah kami), dari kata hidayaat yang artinya memberi petunjuk ke
suatu jalan yang lurus (irsyad). Yang dimaksud di ayat ini bukan sekedar
memberi hidayah saja (yakni tidak hanya hidayah irsyad), tetapi juga meminta
diberi taufik (dibantu menempuh jalan yang lurus). Oleh karenanya kata ihdinaa
langsung dilanjutkan dengan shiraathal mustaqiim, tidak dipisah dengan kata
"ilaa" (ke) yang berarti "tunjukkanlah kami ke ….." karena
ia meminta dua hidayah (irsyad dan taufiq). Oleh karena itu, arti ayat ini
adalah "Tunjukkanlah kami jalan yang lurus dan bantulah kami menempuh
jalan itu serta teguhkanlah kami di atasnya sampai kami berjumpa
dengan-Mu". Jalan yang lurus itu adalah Islam; sebagai jalan yang dapat
mengarah kepada keridhaan Allah dan surga-Nya, jalan yang telah diterangkan
oleh Rasul-Nya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, sehingga seseorang tidak
dapat bahagia kecuali dengan istiqamah di atasnya. Dengan demikian, di ayat ini
kita juga meminta kepada Allah Ta'ala agar dapat istiqamah di atas jalan yang
lurus itu sampai akhir hayat mengingat hati yang lemah mudah berbalik dan
karena hidup di dunia penuh dengan liku-liku, penuh dengan gelombang cobaan dan
fitnah yang begitu dahsyat yang dapat menghanyutkan seorang mukmin. Sungguh
berbahagialah orang yang tetap mendirikan shalat karena do'a yang
dipanjatkannya ini, berbeda dengan orang yang meninggalkan shalat; yang tidak
lagi memanjatkan do'a ini sehingga mudah sekali ia terbawa oleh arus fitnah itu
yang membuat dirinya binasa –wal 'iyaadz billah-.
[11]
Orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah adalah para nabi, para shiddiqin,
para syuhada dan orang-orang shalih berdasarkan surat An Nisaa': 69, jalan
merekalah yang kita minta. Merekalah ahlul hidayah wal istiqamah (orang-orang
yang memperoleh hidayah dan dapat beristiqamah), ciri jalan mereka adalah
setelah mengetahui yang hak (benar), mereka mengamalkannya (belajar dan
beramal).
Adapun
orang-orang yang dimurkai (baik oleh Allah maupun oleh kaum mukminin) adalah
orang-orang yahudi dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka. Ciri jalan
mereka adalah setelah mengetahui yang hak, mereka tidak mau mengamalkan sehingga
mereka dimurkai (belajar dan tidak beramal).
Sedangkan
orang-orang yang sesat adalah orang-orang Nasrani dan orang-orang yang
mengikuti jalan mereka. Ciri jalan mereka adalah tidak mengenal yang hak
sehingga mereka tersesat (beramal tanpa belajar). Di
dalam ayat ini terdapat obat penyakit juhud (membangkang), jahl (kebodohan) dan
dhalaal (tersesat).
Dianjurkan
setelah membaca ayat ini di dalam shalat mengucapkan "aamiiiiiin"
yang artinya "Ya Allah, kabulkanlah", ia tidaklah termasuk ayat dari
surat Al Fatihah berdasarkan kesepakatan para ulama, oleh karena itu mereka
tidak menuliskannya di dalam mushaf-mushaf.
Sumber : http://www.tafsir.web.id
Sumber : http://www.tafsir.web.id
